Tampilkan postingan dengan label Persen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persen. Tampilkan semua postingan
Rabu, 18 Juli 2012 0 komentar

Kebijakan Kuota 1 Persen Pendaftar Luar Kota Dicabut

SURABAYA, KOMPAS.com - Karena banyak diprotes masyarakat, Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya akhirnya mencabut kebijakan kuota 1 persen siswa luar kota untuk penerimaan Rintisan Sekolah Berbasis Internasional (RSBI) tingkat SMP maupun SMA.

Menurut Kepala Dispendik Kota Surabaya, Ikhsan, kebijakan tersebut menyusul banyaknya kritik dan saran yang masuk terkait sistem penerimaan siswa baru yang dijalankan tahun ini. ''Kami sangat terbuka terhadap kritik dan saran dari masyarakat. Kebijakan tersebut diambil sebagai bagian dari menampung aspirasi yang berkembang di masyarakat,'' katanya dikonfirmasi Senin (25/6/2012).

Pencabutan kebijakan sejak Sabtu (23/6/2012) lalu itu otomatis membuka peluang besar bagi siswa luar kota untuk mengikuti tes penerimaan di RSBI. Tidak hanya siswa luar kota, siswa rekomendasi dalam kota pun bisa mengikuti tes masuk RSBI tanpa ada pembatasan.

''Konsekuensinya, kami akan menambah jumlah kelas untuk tes tulis RSBI maupun pengawas yang akan digelar Selasa (26/6/2012) besok,'' jelasnya.

Peserta tes RSBI tingkat SMA, berdasarkan data Panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Dispendik Surabaya hingga berakhirnya pendaftaran pukul 14.00, Sabtu (23/6/2012) lalu sudah mencapai 3.906 siswa. Sementara untuk tingkat SMP tercatat 2.871 siswa dalam kota.

Selain itu, untuk rekomendasi seleksi dalam kota SMA RSBI sebanyak 317 siswa, dan luar kota 230 siswa. Kemudian, hasil seleksi SMP RSBI rekomendasi dalam kota dan luar kota terkumpul ada 227 siswa. Rinciannya, 186 siswa SD dari seluruh Surabaya dan 41 siswa adalah hasil seleksi rekomendasi luar kota.

Pembatasan dilakukan lantaran minimnya pagu sekolah negeri di Surabaya dibandingkan dengan jumlah lulusan SD dan SMP. Ini dilakukan untuk memprioritaskan pelajar Surabaya bersekolah di kota sendiri. Banyak wali murid yang memprotes, karena mereka menganggap, kebijakan itu diskriminatif dan melanggar UU yang tidak membatasi warga negara dalam menuntut ilmu.

Kamis, 05 April 2012 0 komentar

70 Persen Anak Indonesia Sulit Hidup di Abad 21

KOMPAS/Didit Putra Erlangga Rahardjo Guru Besar Matematika dari Institut Teknologi Bandung, Iwan Pranoto, di Bandung

BANDUNG, KOMPAS.com - Dua penelitian terhadap minat belajar matematika kepada anak Indonesia ternyata menghasilkan kesimpulan miris. Rata-rata penguasaan matematika pelajar kelas 2 SMP di Indonesia tidak meningkat dalam lima tahun terakhir dan ada indikasi bahwa kebijakan pendidikan di Indonesia tidak membuatnya lebih baik.

Data tersebut datang dari Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 2007 serta Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2009. Keduanya merupakan studi terpisah dengan metodologi yang berbeda atas sampel yang berbeda terhadap pelajar di Indonesia. Tujuannya untuk perbandingan atau benchmarking literasi matematika di berbagai negara di dunia.

Untuk TIMSS, Indonesia mencapai hasil 397 dan terletak di antara negara benua Afrika seperti Bahrain dengan 398 poin, Mesir dengan 391 poin, atau Iran dengan 403 poin. Negara Asia Tenggara yang paling dekat adalah Malaysia dengan 474 poin sementara lima besar peringkat itu diduduki oleh negara Asia lain yakni Taiwan dengan 598 poin, Korea 597 poin, Singapura 593 poin, Hongkong 572 poin, serta Jepang 570 poin.

Perolehan tersebut akan lebih miris sewaktu dibandingkan dengan hasil TIMSS yang muncul empat tahunan, justru terlihat penurunan yakni 403 poin pada tahun 1999, 411 poin pada 2003 dan anjlok menjadi 397 poin pada tahun 2007.

Kesimpulan yang mirip juga ditampilkan dari hasil penelitian PISA untuk membandingkan jumlah siswa yang literasi matematika di bawah tingkat 2 selama tahun 2003 dibandingkan dengan tahun 2009. Ternyata, Indonesia memiliki persentase tertinggi yakni 76 persen dan tidak banyak berubah dalam enam tahun selanjutnya.

"Padahal, ada penelitian yang menyimpulkan bahwa anak yang penguasaan matematika di bawah level 2 bakal sulit hidup di abad 21 ini," kata Guru Besar Matematika dari Institut Teknologi Bandung, Iwan Pranoto, di Bandung, Rabu (4/4).

Penelitian dari PISA lebih lanjut menampilkan grafis mengenai populasi orang yang menguasai matematika tingkat 5 dan 6. Orang yang memiliki pemahaman di tingkat itu secara statistik bakal menjadi pemimpin di dunia dan aktif pada posisi pengambilan keputusan. Hasilnya, populasi dari Indonesia menunjukkan angka 0. Iwan berujar bahwa Indonesia bakal sulit bersaing secara statistik dalam kancah global.

Dengan data tersebut, lanjut Iwan, seharusnya pemerintah bisa bergerak cepat dan merumuskan kebijakan merevolusi sistem pendidikan di Indonesia. Dia balik bertanya sewaktu ditanya mengenai hasil Ujian Nasional yang terus membaik setiap tahun, karena dua indikator ternyata berkata sebaliknya.  


View the original article here

 
;