Minggu, 22 April 2012

Meningkatkan Kemampuan Penguasaan Kosa Kata Bahasa Inggris Anak Usia Dini dengan Menggunakan Alphabet Method

Firman Parlindungan (Mahasiswa Pascasarjana UNISMA).

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Kebutuhan dan kemajuan zaman telah menuntut kita untuk dapat menguasai bahasa asing sebagai alat komunikasi di era globalisasi ini. Oleh karena itu, kebijakan dimasukkannya bahasa inggris sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal di sekolah dasar telah mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Dewasa ini, peran bahasa inggris sebagai mata pelajaran muatan lokal pilihan telah menjadi muatan lokal wajib. Hal ini terlihat jelas dalam kegiatan pendidikan di sekolah dasar, bahasa inggris diberikan kepada siswa lebih awal.

Salah satu faktor penting dalam pembelajaran bahasa inggris untuk anak adalah guru yang peduli terhadap kebutuhan anak didiknya. Dari hasil penelitian dan kenyataan di lapangan, menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran bahasa inggris untuk anak-anak masih banyak kelemahan dan kekurangannya (Kasihani K.E. Suyanto, 2007). Selain penguasaan dan keterampilan bahasa inggris yang mumpuni, guru juga harus menguasai teknik-teknik mengajar bahasa inggris untuk anak. Anak didik sering merasa jenuh belajar bahasa inggris karena mereka tidak mengenal kosa kata (vocabulary) yang ada. Kosa kata (vocabulary) adalah salah satu faktor penting dalam belajar bahasa inggris. Ketika anak memulai pelajaran dan mereka stag karena kosa kata, maka anak pun menjadi malas belajar. Apalagi dengan penggunaan teknik pengajaran yang kurang tepat.

Untuk mengatasi masalah tersebut, ada satu teknik pengajaran baru bagi anak usia dini yaitu Alphabet Method. Teknik ini digunakan untuk meningkatkan penguasaan kosa kata bahasa inggris (vocabulary) melalui English class yang fun, cooperative, asyik, dan menarik. Oleh karena itu, diharapkan dengan penerapan alphabet method ini, anak lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar bahasa inggris terutama dalam penguasaan kosa kata (vocabulary). Vocabulary yang mereka kuasai, nantinya dapat membantu mereka dalam meningkatkan empat kemampuan dasar bahasa inggris yaitu speaking, listening, reading, dan writing.

1.2. Rumusan

Sesuatu yang diasumsikan sebagai masalah, tentu tidak cukup hanya berhenti pada pertanyaan asumtif semata tanpa ada pembahasan lebih lanjut tentang masalah tersebut. Karena masalah memiliki ruang lingkup yang universal, maka perlu dibatasi dengan rumusan-rumusan agar mengacu terhadap masalah dimaksud. Oleh karena itu, penulis membatasi masalah dalam bentuk pertanyaan berikut:

Apakah dasar pemikiran dan teori psikologi pembelajaran bahasa inggris untuk anak usia dini?

Bagaimanakah teknik penggunaan alphabet method dalam meningkatkan penguasaan kosa kata bahasa inggris (vocabulary) anak usia dini?

1.3. Tujuan

Sebagai kejelasan penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis memiliki beberapa tujuan terkait dengan judul yang penulis angkat yaitu:

1.3.1        Untuk mengetahui dasar pemikiran dan teori psikologi pembelajaran           bahasa inggris bagi anak usia dini

1.3.2        Untuk menjelaskan teknik penggunaan alphabet method dalam meningkatkan penguasaan kosa kata bahasa inggris anak usia dini

1.4 Manfaat

Beberapa manfaat yang diharapkan dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:

1.4.1        Para pendidik dapat menerapkan teknik-teknik pembelajaran bahasa inggris anak usia dini yang menyenangkan dan mengasyikkan

1.4.2        Sebagai sarana dalam meningkatkan teknik pembelajaran anak usia dini

1.4.3        Sebagai sarana dalam mensosilisasikan pendidikan kreatif bagi anak usia dini

1.4.4        Sebagai bahan metode pembelajaran baru yang jarang sekali digunakan oleh para pendidik.

1.4.5        Anak usia dini dapat meningkatkan kosa kata bahasa inggris melalui alphabet method

1.4.6        Siswa dapat menjadikan bahasa inggris sebagai bahasa asing yang menyenangkan untuk dipelajari

1.4.7        Sebagai referensi metode pembelajaran di institusi pendidikan.

BAB II

TELAAH PUSTAKA

2.1 Dasar Pemikiran dan Teori Psikologi Pembelajaran Bahasa Inggris Anak Usia Dini

Ada beberapa teori psikologi perkembangan anak yang relevan dan terkait dengan pembelajaran bahasa, termasuk bahasa asing. Teori-teori tersebut menjadi dasar pemikiran ditetapkanya matapelajaran bahasa inggris yang dimulai dari kelas empat SD dan MI. Teori-teori tersebut dikemukakan oleh Piaget, Vigotsky, dan Brunner. Teori mereka dapat dihubungkan dengan perkembangan anak karena menekankan adanya tingkat-tingkat perkembangan kognitif yang dialami anak, perlunya interaksi sosial dan perlunya bantuan orang dewasa dalam mendorong anak belajar (Kasihani K.E Suyanto, 6:2007). Berikut teori-teori tersebut dikaji lebih lanjut:

2.1.1 Jean Piaget (1896-1980)

Piaget mengemukakan suatu teori psikologi perkembangan yang berhubungan dengan unsur kognitif. Menurut Piaget (1989):

Anak belajar dari lingkungan di sekitarnya dengan cara mengembangkan apa yang sudah dimiliki dan akan berinteraksi dengan apa yang ditemui di sekitarnya. Dalam berinteraksi, mereka akan melakukan suatu tindakan agar bisa memecahkan masalahnya dan di sinilah terjadi proses belajar

Menurut Piaget semua anak adalah pembelajar aktif. pengetahuan baru merupakan pengetahuan yang secara aktif disusun oleh anak itu sendiri. Pada awalnya, hal itu terjadi bekaitan dengan benda-benda konkrit yang ada di sekitarnya, kemudian masuk dalam pikiranya dan diikuti dengan melakukan suatu tindakan, selanjutnya tindakan itu dicerna dan dipahami. Dengan cara itu, apa yang ada di dalam “pikiran” terlihat sebagai sesuatu yang diperoleh dari tindakanya (action), lalu “pikiran” berkembang dan tindakan serta pengetahuan anak akan beradaptasi dan terjadilah sesuatu yang baru.

Menurut Piaget (1969), terdapat empat fase perkembangan anak, yaitu:

1) Sensory motor stage, dari lahir sampai usia dua tahun;

2) Preoperational stage, usia dua sampai delapan tahun;

3) Concrete operational stage, usia delapan sampai sebelas tahun;

4) Formal stage, usia, 11-15 tahun atau lebih.

Fase masa perkembangan tersebut tidak selalu sama bagi setiap anak, baik secara perorangan atau kelompok. Fase-fase perkembangan dapat terjadi bersamaan waktunya, tetapi perkembangan untuk setiap anak dapat dicapai dalam waktu yang tidak bersamaan, apalagi untuk setiap jenis pengetahuan juga berbeda.

Dengan memperhatikan keempat fase perkembangan tersebut, dapat kita lihat pada fase dimana anak-anak sekolah dasar Indonosia, yaitu anak-anak usia 6-12 tahun. Tentunya mereka berada pada akhir periode preoprational stages sampai dengan concrete operational stages, bukan sampai awal dari formal stages. Berarti anak-anak usia sekolah dasar perlu mendapat perhatian sesuai dengan jenjang kelasnya. Pikiran anak berkembang sedikit demi sedikit sesuai dengan perkembangan pengetahuan dan keterampilan intelektualnya menuju ke tahap cara berpikir yang lebih logis dan formal.

Piaget (1963) berpendapat bahwa “cara berpikir anak berkembang melalui keterlibatan langsung dengan benda dan lingkungan yang ada di sekitarnya”. Setiap mencapai fase perkembangan baru, kemampuan bertambah dan menjadi satu dengan tingkat daya berpikir sebelumnya. Karena dua dari empat masa peralihan, masa perkembangan biasanya terjadi pada waktu anak-anak di sekolah dasar maka guru bahasa sebaiknya dapat mengikuti ciri-ciri dan perubahan perkembangan fase kognitif mereka.

2.1.2 Lev Vygotsky (1962)

Teori Vygotsky dikenal sebagai teori yang berfokus pada faktor sosial dan juga sering di sebut sebagai sociocultural theory. Vygotsky percaya bahwa interaksi sosial dengan orang lain, terutama dengan orang dewasa akan menimbulkan terjadinya ide-ide baru dan meningkatkan perkembangan intelektual pebelajar. Beliau berpendapat bahwa anak adalah pebelajar aktif. Perlu kita ketahui bahwa sebenarnya bahasa merupakan alat bagi anak untuk membuka peluang guna melakukan sesuatu dan untuk menata informasi melalui penggunaan kata-kata. Karena itu, tidak mengherankan kalau sering kita temukan anak berbicara pada dirinya sendiri ketika bermain sendiri, hal itu sering disebut sebagai bahasa pribadi (private speech). Dalam tingkat perkembangan ini dia mulai mampu membedakan antara social speech untuk orang lain dan private speech untuk dirinya sendiri (Cameron, 2001).

Pada umumnya, anak-anak yang baru mulai belajar berbicara mengucapkan satu kata yang mempunyai pesan yang utuh. Seperti ketika dia menyebut kata “mama”, dia bermaksud mengatakan “saya mau ikut mama” atau “saya mau disuapi mama”. Sesuai dengan berjalannya waktu, mereka akan berkembang dan akan mengucapkan lebih dari satu kata.

Perkembangan dan proses belajar bahasa terjadi dalam suatu konteks sosial, yaitu dalam komunitas yang penuh dengan orang yang berinteraksi dengan anak tersebut. Menurut Vygotsky, orang dewasa dapat membantu anak dengan berbagai cara. Sambil mengajari melakukan sesuatu, juga bisa menghemat waktu anak yang sedang belajar dan juga untuk menghindari hal-hal yang kurang menyenangkan. Pokok pikiran dan konsep Vygotsky tehadap aspek sosial dalam proses belajar inilah disebut dengan ZPD (zone of proximal development). Dalam hal ini, Vygotsky menggunakan ZPD untuk memberi makna pada tingkat kecerdasan. Dalam pandangannya, intelegensi sebaiknya diukur dengan apa yang dilakukan oleh seorang anak dengan bantuan yang tepat. Misalnya dengan meningkatkan cara berinteraksi dengan orang yang lebih dewasa, seperti orang tua, orang sekitar, guru, dan lainnya.

Ada tiga hal pokok yang ditekankan oleh Vygotsky dalam Arends (1998), yaitu:

1)      kemampuan berpikir berkembang ketika orang dihadapkan pada pengalaman baru, ide-ide baru, dan permasalahan yang kemudian dihubungkan dengan apa yang sudah diketehui sebelumnya (prior knowledge).

2)      interaksi dengan orang lain akan memacu perkembangan intelektual atau cara berpikir anak untuk menemukan sesuatu yang baru.

3)      peran utama seorang guru adalah sebagai pembantu yang baik untuk memberikan pertolongan kepada anak yang sedang dalam proses belajar.

Pada waktu mempelajari sesuatu yang baru, terjadilah proses menghubungkan antara apa yang sudah diketahui sebelumnya dengan hal baru melalui pelbagai pengalaman belajar. Dengan kata lain, seolah-olah ada suatu “jembatan pengalaman” dimana pebelajar mulai dengan apa yang sudah dikenal atau dimiliki (prior knowledge) kemudian dia melewati “jembatan” tersebut dengan pelbagai pengalaman belajar, setapak demi setapak, akhirnya sampai pada “ balajar sesuatu yang baru” (new knowledge).

2.1.3 Jerome Bruner (1983-1990)

Bruner adalah pakar psikologi. Beliau menekankan bahwa dalam proses belajar yang paling penting adalah melibatkan siswa secara aktif sejak awal proses belajar pada waktu pembelajaran terjadi karena ditemukan sendiri oleh anak tersebut. Dalam penelitiannya, Bruner melakukan percobaan tentang para ibu dan anaknya. Ternyata orang tua dapat membantu dan menunjang tugas-tugas anak secara efektif, antara lain dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:

1)      membuat anak-anak tertarik pada tugasnya

2)      menyederhanakan tugas-tugas, misalnya dengan membagi-bagi menjadi tugas atau tahap-tahap yang lebih kecil

3)      selalu mengingatkan maksud dan tujuan tugas

4)      menunjukkan kepada anak bagian mana yang penting untuk dikerjakan dan memberitahu cara-cara lain untuk mengerjakan bagian-bagian tugas tersebut

5)      menjauhkan anak dari rasa frustasi ketika mereka melakukan tugas

6)      mendemonstrasikan satu bentuk tugas yang ideal, misalnya bagaimana minta maaf, paitan, dan sebagainya (Cameron, 2001:8)

BAB III

METODE PENULISAN

3.1 Sumber Data

Data diperoleh dari sumber tertulis dan lisan berupa buku, pedoman, artikel dari internet, majalah, dan hasil interview yang terkait dengan masalah yang diangkat.

3.2 Prosedur Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam pengumpulan dan pengolahan data adalah:

3.2.1        Studi Kepustakaan (Library Research), yaitu pengumpulan data dengan mencari rujukan untuk mendapatkan data dan/atau teori yang terkait dengan masalah yang diangkat.

3.2.2        Studi Lapangan (Field Research), yaitu pengumpulan data melalui observasi langsung ke lapangan dengan menggunakan teknik interview sebagai intsrumen pengumpulan data untuk memperoleh data dan/atau informasi yang terkait dengan masalah yang diangkat.

3.3 Analisis Data

Setelah data diperoleh, data diidentifikasi dengan menghubungkan masalah dan data tersebut. Dalam hal ini penulis menelaah tentang keobjektifan sumber dan keakuratan data yang diperoleh. Kemudian data diolah dengan sistematis dalam setiap bab.

BAB IV

ANALISIS SINTESIS

4.1 Teknik Penggunaan Alphabet Method dalam Meningkatkan Penguasaan Kosa Kata Bahasa Inggris Anak Usia Dini

Alphabet Method adalah metode yang menggunakan huruf abjad sebagai media dalam pembelajaran, mulai dari huruf A sampai dengan Z. Metode ini diterapkan dengan menghubungkan pengalaman pribadi siswa dan kemampuan kognitifnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Jerome Bruner “true learning comes through personal discovery”, dengan begitu hasil pembelajaran akan diserap secara maksimal oleh siswa.

4.1.1 Langkah-Langkah Penggunaan Alphabet method

1)      satu minggu sebelum materi disampaikan, siswa diminta untuk mencari informasi dan kosa kata bahasa inggris yang terkait dengan materi yang akan disampaikan. Siswa dapat mencari informasi dari berbagai sumber, misalnya dari buku, internet, atau lingkungan sekitar mengenai kosa kata yang berkaitan dengan materi yang akan dibahas contoh: materi yang akan dibahas adalah “Alat Transportasi”.

2)      Setelah satu minggu, siswa diminta membuat kelompok menjadi lima kelompok. Dalam hal ini satu kelompok beranggotakan lima orang. Dan masing-masing anggota kelompok mendapatkan satu abjad. Contoh: kelompok A-E, F-J, K-O, P-T, dan satu kelompok beranggotakan enam orang U-Z lihat gambar 2.2.1. Apabila jumlah siswa lebih dari jumlah abjad A-Z, maka siswa tersebut dapat bergabung ke dalam salah satu kelompok yang ada dan mendapatkan satu abjad yang sama seperti anggota kelompok tersebut.

3)      Setelah pembentukan kelompok selesai, siswa diminta mengingat kembali informasi dan kosa kata bahasa inggris tentang “Alat Tranportasi” sesuai dengan abjad yang mereka dapatkan. Dan mengisi kosa kata tersebut di dalam kotak yang telah disediakan sesuai dengan abjad kelompoknya masing-masing. Contoh: Siswa yang mendapatkan abjad dalam kelompok A-E, maka mereka mengisi kotak A-E dengan kosa kata bahasa inggris tentang “Alat Transportasi” yang diawali oleh abjad A-E, seperti Airplane, Bus, Car, Dokar dan seterusnya. Lihat gambar 2.2.1. Jumlah kotak dalam gambar tersebut bisa ditambah sesuai dengan kebutuhan siswa. Apabila ada siswa yang tidak bisa mengisi table, maka teman kelompoknya bisa membantu.

4)      Langkah yang terakhir adalah presentasi masing-masing individu dalam kelompok. Siswa mempresentasikan kosa kata bahasa inggris tetang “Alat Transportasi” yang mereka letakkan dalam gambar 2.2.1 di depan kelompoknya masing-masing. Presentasi berupa penyampaian deskriptif terkait kosa kata yang diletakkan dalam gambar. Contoh: siswa dalam kelompok A-E mengisi kotak dengan kosa kata bahasa inggris tentang “Alat Transportasi” seperti Airplane, Bus, dan Car. Maka mereka secara bergiliran mendeskripsikan alat transportasi tersebut.

Gambar 2.2.1 : Kartu Model dan Pembagian Kelompok dalam Alphabet Method

4.2 Teknik Penilaian dalam Alphabet Method

Teknik penilaian dalam Alphabet Method menggunakan teknik penilaian authentic (Authentic Assessment).  Istilah Authentic Assessment digunakan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk penilaian yang dapat menggambarkan hasil pembelajaran siswa, motivasi, kemajuan belajar, pemerolehan belajar, dan sikap-sikap terhadap kegiatan kelas bahasa inggris yang relevan dengan pembelajaran (O’Maley dan Pierce, (1996:4) adapun cirri-ciri authentic assessment adalah sebagai berikut:

1)   Berfokus pada tujuan dan kompetensi apa yang akan dicapai

2)   Melibatkan pengalaman dunia nyata

3)   Memanfaatkan sumber daya yang ada

4)   Menyibukkan siswa dengan hal-hal yang relevan

5)   Ada kegiatan, upaya, dan latihan

6)   Dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekuatan siswa dengan melakukan penilain diri (self-assessment), penilain teman (peer-assessment), dan refleksi.

7)   Siswa dilatih untuk berfikir kritis dan berfikir ke tingkat lebih tinggi

8)   Tugas-tugas hendaknya bermakna misalnya membuat laporan, bercerita, dan melakukan pengamatan.

9)   Tugas-tugas terpadu antara ketrampilan berbahasa dengan pengetahuan dan komponen lain.

10) Menuntut adanya kerjasama misalnya tugas kelompok

Berdasarkan ciri-ciri di atas maka ada dua aspek yang perlu diperhatikan dalam penilaian Alphabet Method yaitu :

1)      Hasil presentasi dari masing-masing siswa. Semakin baik presentasinya, semakin baik pula nilainya, begitu juga sebaliknya.

2)      Kebenaran dan keakuratan informasi yang diperoleh.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.1.1 Pelaksanaan pembelajaran bahasa inggris untuk anak usia dini masih banyak kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu, diperlukan improvisasi guru dalam mengembangkan teknik-teknik pengajaran yang tepat. Agar out put yang dihasilkan pun lebih maksimal.

3.1.2 Hal yang paling dalam proses belajar mengajar adalah melibatkan siswa secara aktif sejak awal proses belajar pada waktu pembelajaran terjadi karena transfer ilmu akan ditemukan sendiri oleh anak tersebut.

3.1.3 Interaksi social yang dialami siswa dengan orang lain, terutama dengan orang dewasa akan menimbulkan terjadinya ide-ide baru dan meningkatkan perkembangan intelektual pebelajar.

3.1.3 Alphabet Method dapat membantu siswa meningkatkan penguasaan kosa kata bahasa inggris, karena pada proses pelaksanaannya melibatkan siswa secara langsung dengan pengalaman pribadinya.

3.1.5 Out put dari Alphabet Method lebih maksimal dalam hal meningkatkan penguasaan vocabulary siswa usia dini, karena selain siswa dapat mengingat kosa kata dengan cepat, siswa juga dilibatkan dengan interaksi sosial yang dapat membantu mengembangkan intelektual mereka.

3.1.6 Penilaian hasil belajar siswa lebih reliable, karena menngandung aspek-aspek authentic assessment yang menggambarkan hasil pembelajaran siswa, motivasi, kemajuan belajar, pemerolehan belajar, dan sikap-sikap terhadap kegiatan kelas bahasa inggris yang relevan dengan pembelajaran.

.

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. 2009. Pedoman Program Kreativitas Mahasiswa 2009. Departemen Pendidikan Nasional: Jakarta

E. Slavin, Robert. 2008. Cooperative Learning; Teori, Riset, dan Praktik. Nusa Media: Bandung.

Junaidi. 1995. Is Transformation Really Meaning Preservation? Comments on Transformational Grammar and Katz-Postal Hypothesis. Buana. 2(9): 41-46.

K.E Suyanto, Kasihani. 2007. English for Young Leaners. Bumi Aksara: Jakarta.

L. Silberman, Melvin. 2006. Active Learning; 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Nusa Media: Bandung.


View the original article here

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
;